Kamis, 25 Oktober 2012

HUBUNGAN PSIKOLOGI DENGAN SOSIAL, PEDAGOGI, DAN AGAMA

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Allah menciptakan kita sebagai makhluk yang berfikir dan itulah yang merupakan sebagian dari nikmat besar yang di berikan dari pada makhluk-makhluk lain di dunia, Manusia memiliki bermacam ragam kebutuhan batin maupun lahir akan tetapi, kebutuhan manusia terbatas karena kebutuhan tersebut juga dibutuhkan oleh manusia lainnya, maka dari itu kita di sebut sebagai makhluk sosial, begitu juga manusia selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama karena manusia merasa bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya yang maha kuasa tempat mereka berlindung dan memohon pertolongan. Sehingga keseimbagan manusia dilandasi kepercayan beragama. sikap orang dewasa dalam beragama sangat menonjol jika, kebutuaan akan beragama tertanam dalam dirinya. Kesetabilan hidup seseorang dalam beragama dan tingkah laku keagamaan seseorang, bukanlah kesetabilan yang statis. adanya perubahan itu terjadi karena proses pertimbangan pikiran, pengetahuan yang dimiliki dan mungkin karena kondisi yang ada. Tingkah laku keagamaan orang dewasa memiliki persepektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya, begitu juga manusia tidak bisa lepas dari pendidikan, karena itu yang bisa mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam masyarakat itu sendiri. Dari tiga aspek di atas tidak bisa terlepaskan dari satu hal cabang ilmu pengetahuan yaitu psikologi, karena pada hakikatnya itu merupakan ilmu yang tidak bisa terpisah-bisahkan, dan termasuk dari dari baigian ilmu itu sendiri, untuk mengetahui lebih lanjut, kami menyajikan pembahasan yang akan membahas tentang, sebuah relasi psikologi dengan sosial, pedagogi dan agama. B. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana Hubungan Psikologi Dengan Sosiologi? 2. Bagaimana Hubungan Psikologi Dengan pedagogi? 3. Bagaimana Hubungan Psikologi Dengan Agama? C. TUJUAN PENULISAN 1. Untuk mengetahui Hubungan Psikologi Dengan sosiologi 2. Untuk mengetahui Hubungan Psikologi Dengan Pedagogi 3. Untuk mengetahui Hubungan Psikologi Dengan Agama BAB I PEMBAHASAN A. HUBUNGAN PSIKOLOGI DENGAN SOSIOLOGI Manusia sebagai mahluk sosial juga menjadi objek sosiologi. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan manusia mempelajari manusia di alam masyarakatnya, karena itu baik psikologi maupun sosiologi yang sama sama membicarakan manusia, tidaklah mengherankan kalau pada suatu waktu adanya titik pertemuan di dalam meninjau titik manisua, misalnya masalah tingkah laku, tinjauan sosiologi yang penting adalah tinjauan masyarakatnya, sedangkan tinjauan psikologi bahwa tingkah laku sebagai manifestasi hidup kejiwaan yang di di dorong oleh moral tertentu hingga manusia itu bertingkah laku atau berbuat, karena adanya titik-titik persamaan ini maka timbulah cabang ilmu pengetahuan dan mempelajari tingkah laku manusia dengan hubungannya dengan situasi-situasi sosial, menurut gerungan, pertemuan antara psikologi dengan sosiologi itulah yang merupakan daerah psikologi sosial.[1] Seperti apa yang di kemukakan oleh bouman: “Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang hubungan hidup manusia dalam hubungan golongan, ia mempelajari antara hubungan-hubungan sesama manusia, sepanjang hal ini berarti bagi kita dalam memperdalam pengetahuan kita tentang perhubungan-perhubungan dalam masyarakat, dalam hal ini yang utama menarik perhatian kita ialah bentuk-bentuk pergaulan hidup, dimana perhubungan-perhubungan ini menunjukkan sifat yang kurang atatu lebih kekal: pertama-tama golongan-golongan dan penggolongan-penggolongan (bangsa, keluarga, perhimpunan, tingakatan kelas dan sebagainya) Bagi ahli sosiologi tinggallah satu persoalan yang tak dapat di masukkan dalam ilmu-ilmu pengetahuan lainya, yakni menyelami hakikat kerja sama dan kehidupan bersama dalam segala macam bentuk yang timbuldari perhubungan antar manusiadengan manusia, jadi yang di persoalkan disini adalahkehidupan bergolong-golongan yang sebenarnya.[2] Manusia sebagai makhluk social selain menjadi objek dari psikologi jugamenjadi objek dari ilmu social lain, misalnya sosiologi. Sosiologi sebagai suatu ilmu mempelajari manusia dalam hidup bermasyarakat. Karena baik psikologi maupun sosiologi sama-sama mempelajari manusia, karena tidaklah mengherankan bahwa didamping adanya perbedaan, terdapat pula titik pertemuan dalam meninjau manusia itu. Tinjauan sosiologi yang penting adalah bentuk hidup bermasyarakat, struktur dan fungsi dari kelompok yang terkecil hingga kelompok yang besar. Sedangkan tinjauan psikologi yang penting adalah bahwa perilaku itu sebagai manifestasi hidup kejiwaan, yang didorong oleh motif tertentu, hingga manusia itu berprilaku atau berbuat. Dari penjelasan diatas dapat dikemukana bahwa antara psikologi dan sosisologi memang terdapat perbedaan dalam materi yang dibicarakan selain ada titik-titik pertemuan antara keduanya. Karena adanya titik-titik pertemuan antara kedua ilmu tersebut, maka timbullah ilmu dalam lapangan psikologi, yaitu psikologi social. Gerungan menyatakan bahwa pertemuan psikologi dengan sosiologi itulah merupakan daerah psikologi social. Perilaku manusia sebagai suatu respon terhadap stimulus yang diterimanya, menjadi tinjauan dari berbagai ilmu antara lain antropologi, sosiologi, psikologi, ekonomi dan sebagainya, yaitu oleh semua ilmu yang dikenal dengan ilmu-ilmu social, Disamping itu Secord dan Backman mengemukakan tentang bahwa perilaku manusia dalam interaksi social dapat dianalisis melalui 3 macam system, yaitu the personality system, the social system, and the cultural system. 1. Perilaku manusia dalam kaitannya dengan lingkungan merupakan tinjauan dari antropologi. Antropologi, khususnya antropologi budaya meninjau perilaku dari segi kebudayaan yang melatarbelakanginya. 2. Sosiologi juga meninjau perilaku manusia dalam kaitannya dengan hidup bermasyarakat. Tinjuannya lebih pada bagaimana hubungan individu dengan kelompoknya, tinjauannya kepada sostem socialnya. Ini berarti bahwa system kehidupan social merupakan focus dari sosiologi. 3. Tinjauan personality system adlah meninjau perilaku manusia dari segi psikologi, khususnya psikologi kepribadian, yaitu meninjau manusia dari sudut pandang bahwa manusia itu mempunyai kemampan-kemampuan, sifat-sifat, perasaan tertentu. Jadi pendekatannya adalah dari segi potensi-potensi psikologis yanga ada dalam diri manusia itu. Dari segi itulah yang menyebabkan manusia itu berprilaku. Mead dan madzhabnya mengisyaratkan adanya suatu kemungkinan yang menarik bagi apa yang di namakan “psikologi sosiologis” artinya, suatu sosiologi yang memperoleh persepektif-persepektif dasarnya dari suatupemahaman sosiologis tentang kondisi manusia. Menurut s. takdir alisjahbana jasa yang paling besar dari psokologi sosial modern seperi yang di kemukakan oleh FH.Allport, Muzafer sherif, salomon E, esch peter e Hoffstatter dan lain-lain ialah karena mengembalikan keutuhan perpecahan antara psikologi dan sosilogi.[3] Menurut Secord and Backman psikologi social mempunyai sifat yang meninjau prilaku manusia dari sudut pandang prilaku manusia dari ketiga pendekatan tersebut, karena dalam melihat perilaku manusia tidak dapat lepas dari keadaan lingkungannya, yaitu menyangkut segi kebudayaan serta struktur sosialnya. Serge moscovici seorang psikolog sosial perancis menyatakan bahwa psikologi sosial adalah jembatan diantara cabang-cabang pengetahuan sosial lainnya. Sebab psikologi sosial mengakui pentingnya memandang individu dalam suatu system sosial yang lebih luas dan karena itu menarik kedalamnya sosiologi, ilmu politik, antropologi, dan ekonomi. Psikologi sosial mengakui aktifitas manusia yang rentangnya luas dan pengaruh budaya serta perilaku manusia dimasa lampau. Dalam mengambil fokus ini psikologi sosial beririsan dengan filsafat, sejarah, seni dan musik. Selain itu psikologi sosial memiliki perspektif luas dengan berusaha memahami relevansi dari proses internal dari aktivitas manusia terhadap perilaku sosial. Dalam hal ini psikologi sosial misalnya mungkin mempertanyakan bagaimana keadaan orang setelah menyaksikan suatu kejadian menakutkan akan mempengaruhi arousal secara fisiologis, seperti tekanan darah dan serangan jantung. Karena perspektif ini, maka dibahas tentang persepsi, kognisi dan respon fisiologis. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa cirikhas dari psikologi sosial adalah memfokuskan pada individu daripada kelompok atau unit.sementara ahli ilmu sosial yang lain mempergunakan analisis kemasyarakatan yakni mempergunakan faktor-faktor secara luas untuk menjelaskan perilaku sosial. Misalnya sosiologi lebih tertarik pada struktur dan fungsi kelompok. Kelompok itu dapat kecil (keluarga), atau moderat (perkumpulan mahasiswa, klub sepakbola), atau luas (suatu masyarakat). Sementara bidang studi lain dari psikologi yang tertarik pada keunikan dari perilaku individu adalah psikologi kerpibadian. Pendekatan psikologi kepribadian adalah membandingkan masing-masing orang. Sementara pendekatan psikologi sosial adalah mengidentifikasikan respon (cara bereaksi) dari sebagian besar atau kebanyakan orang dalam suatu situasi dan meneliti bagaimana situasi itu mempengaruhi respon tersebut. Marilah kita bandingkan ketiga pendekatan tersebut dengan menggunakan contoh yang spesifik untuk menganalisis terjadinya tindak kekerasan. Pendekatan kemasyarakatan cenderung menunjukkan adanya kaitan antara tingkat kejahatan yang tinggi dengan kemiskinan, urbanisasi yang cepat, dan industrialisasi dalam suatu masyarakat. Untuk membuktikan kesimpulan ini, mereka menunjukkan beberapa fakta tertentu : orang yang miskin lebih sering melakukan kejahatan; kejahatan lebih banyak timbul di daerah kumuh ketimbang di lingkungan elit; kriminalitas meningkat pada masa resesi ekonomi dan menurun di saat kondisi ekonomi membaik. Sementara pendekatan individual dalam bidang psikologi yang lain (psikologi kepribadian, perkembangan dan klinis) cenderung menjelaskan kriminalitas berdasarkan karakteristik dan pengalaman criminal individu yang unik. Pendekatan ini akan mempelajari perbedaan individual yang menyebabkan sebagian orang melakukan tindak criminal, yang tidak dilakukan oleh orang lain dengan latar belakang yang sama, untuk itu, biasanya mereka memusatkan pada latar belakang individu, misalnya bagaimana perkembangan orang itu? Disiplin apakah yang diterapkan orang tuanya? Mungkin orang tua yang kasar cenderung menumbuhkan anak belajar berperilaku kasar?. Penelitian dapat dilakukan dengan membandingkan latar belakang keluarga anak yang nakal dengan yang tidak nakal. Jadi analisis semacam ini memusatkan pada bagaimana dalam situasi yang sama orang dapat melakukan perilaku yang berbeda karena pengalaman masa lalu yang unik. Sebaliknya psikologi sosial lebih berpusat pada usaha memahami bagaimana seseorang bereaksi terhadap situasi sosial yang terjadi. Psikologi sosial mempelajari perasaan subyektif yang biasanya muncul dalam situasi sosial tertentu, dan bagaimana perasaan itu mempengaruhi perilaku. Situasi interpersonal apa yang menimbulkan perasaan marah, dan meningkatkan atau menurunkan kemungkinan munculnya perilaku agresi? Sebagai contoh, salah satu prinsip dasar psikologi sosial adalah bahwa situasi frustasi akan membuat orang marah, yang memperbesar kemungkinan timbulnya mereka melakukan perilaku agresi. Akibat situasi yang menimbulkan frustasi ini merupakan penjelasan alternative mengenai sebab timbulnya kejahatan. Hubungan itu tidak hanya menjelaskan mengapa perilaku agresif terjadi dalam situasi tertentu, tetapi juga menjelaskan mengapa faktor ekonomi dan kemasyarakatan menimbulkan kejahatan. Misalnya, orang miskin berduyun-duyun dating ke kota akan mengalami frustasi; mereka ternyata sulit mencari pekerjaan, mereka tidka dapat membeli apa yang mereka inginkan, tidak dapat hidup layak seperti yang mereka bayangkan. Dan frustasi ini merupakan sebab utama munculnya sebagian besar perilaku criminal. Psikologi sosial biasanya juga menyangkut perasaan-perasaan subyektif yang ditimbulkan situasi interpersonal, yang kemudian mempengaruhi perilaku individu. Dalam contoh ini situasi frustasi menimbulkan kemarahan, yang kemudian menyebabkan timbulnya perilaku agresif.[4] B. HUBUNGAN PSIKOLOGI DENGAN PEDAGOGI Kedua ilmu ini hampir tidak dapat di pisahkan satu sama lain, oleh karena mempunyai hubungan timbale balik pedagogic sebagai ilmu yang bertujuan untuk memberikan bimbingan hidup manusiasejak dari lahir sampai mati tidak akan sukses, bilamana tidak mendasarkan diri kepada psikologi, yang tugasnya memang menunjukkan perkembangan hidup manusia, sepanjang masa, bahkan cirri dan wataknya serta kepribadianya di tunjukkan oleh psikologi, dengan demikian pedagogic akan menepatkan sasaranya, apabila dapat memahami langkah-langkahnya sesuai dengan petunjuk psikologi,oleh karena sangat erat luasnya antara keduanya, maka timbul educational psyikology (ilmu jiwa pendidikan).[5] Sebenarnya psikologi dengan ilmu pendidikan tidak bisa di pisahkan satu sama lainya, mengapa?, karena keduanya mempunyai hubungan timbale balik , ilmu pendidikan sebagai suatu disiplin yang bertujuan memberikan bmbingan hidup manusia sejak ia lahir sampai mati, pendidikan tidak akan berhasil dengan baik bilamana tidak berdasarkan kepada psikologi perkembangan, demikian pula watiak dan kepribadia seseorang di tunjukkan oleh psikologi,karena bigitu eratnya antara tugas psikologi dengan ilmu pendidikankemudian lahirlah sebuah subdisplin psikologi pendidikan. Reber menyebut psikologi pendidikan sebagai subdisplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hah-hal berikut: 1. Pnerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas 2. Pengembangan dan penerapan kurikulum 3. Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan 4. Sosialisasi proses-proses dan interaksi dengan pendayagunaan ranah kognitif. 5. Penyelenggaraan pendidikan keguruan . Dengan bantuan atau pengertian di atas reber tampaknya menganggap bahwa psikologi pendidikan masuk dalam sub disiplin psikologi terapan.[6] C. HUBUNGAN PSIKOLOGI DENGAN AGAMA Psikologi dan agama merupakan dua hal yang sangat erat hubunganya antara keduanya, mengingat agama sejak turunya sabda rosul di ajarkan kepada manusia dengan dasar-dasar yang di sesuaikan dengan situasi dan kondisi psikologi pula, tampa dasar agama sulit mendapat tempat di dalam jiwa manusia, di dalam agama tedapat ajaran agama tentang bagaiman manusia mau menerima petunjuk tuhanya, sehingga manusia itu sendiri tampa paksaan bersedia menjadi hambanya yang baik dan taat, itulah sebabnya dapat dikatakan bahwa di dalam agama itu penuh dengan unsure-unsur pedagogis, yang bahkan merupakan esensi pokok dari tujuan agama di turunkan oleh tuhan kepada umat mansuai, unsure pedagogis dalam agama tidak dapat mempengaruhi, manusia kecuali bilamana di samapaikan kepadanaya sesuai dengan petunjuk-petunjuk psikologi dalam hal ini psikologi pendidikan Contoh bahwa psikologi mempunyai hubungan erat dalam memberiakan bimbingan manusia adlah terhadap manusia yang berdosa pada manusia yang melanggar normatersebut dapat mengakibatkan perasaan nestapa dalam dirinya meskipn hubungan lahirnya tidak di beriakan terhadapnya, psikologi memandang bahwa orang yang berdosa itu berarti telah menghukum dirinya sendiri, karena dengan perbuatan pelanggaran tersebut, jiwa mereka menjadi terteka, kotor dan gelap, yang apabila yang bersangkitan tidak dapat mensublimasikan (mengalihkan kepada perbuatan yang lebih baik )perasaanya akan mengakibatkan semacam penyakit jiwa,(psichistania)yang merugikan dirinya sendiri, dalam hal demikian itulah pendidik agama sanagat di perlukan untuk memberikan jalan sublimatif atau katarsis(pembersihan jiwa) orang yang menderita dosa. Mengingat eratnya hubungan antara keduanya, akhirnya lahirlah psikologi agama,(psikologi of relegion)yang objek pembahasanya antara lain :bagaimanakah perkembangan kepercayaan kepada tuhan masa kanak-kanak sampai dewasadan kapan terjadi kemantapan hidup keagamaan seseorang bagaimana perbedaan tingkah laku orang yang beragama dengan yang tidak beragamadan lain sebagainya tokohnya antara lain, Prof. Rumke, Straton, dan William james.[7] Psikologi dan agama mempunyai hubungan benci-cinta sepanjang sejarah. menurutkang jalal, hubungan ini amat sangat dipengaruhi oleh perilaku sains (yang menjadi dasar ilmu psikologi) terhadap agama. pada masa gereja berkuasa dan sains mulai menemukan banyak hal, agama dan psikologi (dan sains) bermusuhan. ditandai dengan dipenjarakannya da vinci karena bid'ah oleh gereja. saat itu, yang dalam sejarah disebut sebagai the dark middle age, gereja keluar sebagai pemenang. Pada awal abad 20, ketika sains menjadi panglima, lagi-lagi psikologi dan agama (dan sains) bermusuhan. tapi kali ini sains yang menang. abad ini ditandai dengan lahirnya pemikir-pemikir besar yang ateis, seperti Darwin yang mengatakan bahwa manusia berevolusi dari kera, Marx yang bilang 'agama adalah candu', Nietzsche yang mengatakan bahwa 'tuhan sudah mati', dan Freud yang bilang bahwa agama hanya ilusi kekanak-kanakan, kerinduan seorang anak akan bapaknya. psikologi pada masa ini adalah psikologi ateistik, yang menganggap agama adalah sebuah patologi alias penyakit jiwa. pada akhir abad 20, ketika paham materialisme mencapai puncaknya, ternyata kekosongan hidup yang ditengarai bisa diisi dengan materi, tidak juga bisa diisi. terjadilah pergeseran nilai. Muncul filsafat eksistensial, yang walaupun di satu sisi melahirkan pemikir ateistik seperti Sartre dan Camus, tapi juga melahirkan Kierkegaard yang amat religius. Muncul Einstein, yang berkata bahwa fisika membuat dia menemukan Tuhan dimana-mana. Muncul Maslow dengan teori hierarki kebutuhannya yang dengan jelas menegaskan bahwa 'there's something beyond material thing'. Dari dunia psikologi muncul Carl Jung yang meneliti dengan penuh perhatian menengai agama dan kejiwaan. Gelombang kerinduan akan 'Tuhan' menerjang. Di Amerika, muncul gerakan new age yang melirik dunia timur dan spiritualitasnya sebagai jawaban atas kekosongan jiwa. Pada saat ini, agama mulai dilirik sebagai salah satu 'kebutuhan' di dalam dunia psikologi. Bahkan agama, dan ritualnya, menjadi salah satu alternatif penyembuhan masalah-masalah kejiwaan.[8] Bentuk-bentuk Interaksi Psikologi dan Agama Jones menyebut 3 model interaksi psikologi dan agama: (1) Kritis-evaluatis. Teori-teori psikologi dikaji secara kritis apakah tidak bertentangan dengan keyakinan agamanya. Jadi, psikologi diletakkan di bawah mikroskop agama; (2) Konstruktif. Agama membantu psikolog untuk melihat dunia dengan cara yang baru, membentuk persepsi baru tentang data dan teori. Ajaran agama tidak menjadi sumber data untuk mengevaluasi teori, tetapi menjadi “kacamata” yang mempengaruhi apa yang kita lihat sebagai data atau yang kita rumuskan sebagai teori; (3) Dialogis dan dialektis. Disini, psikologi tidak memaksa agama mengikuti jalan yang dikehendakinya, sebaliknya agama tidak memaksa sains untuk tunduk pada kehendaknya. Agama harus membantu psikologi memberi perspektif yang berbeda. Psikologi harus membantu agama melihat kehidupan yang berbasiskan pengalaman empiris. jones menyatakan: “Kesediaan dialogis dengan agama menyiratkan kesediaan ilmuwan dan professional untuk mendalami teologi dan filsafat. Serta kesediaan teolog dan filosof untuk mendalami sains dan memahami profesi”. Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadapsikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi Belajar psikologi agama tidak untuk membuktikan agama mana yang paling benar, tapi hakekat agama dalam hubungan manusia dengan kejiwaannya , bagaimana prilaku dan kepribadiannya mencerminkan keyakinannnya.Mengapa manusia ada yang percaya Tuhan ada yang tidak, apakah ketidak percayaan ini timbul akibat pemikiran yang ilmiah atau sekedar naluri akibat terjangan cobaan hidup, dan pengalaman hidupnya. Beragama bagi orang dewasa sudah merupakan bagian dari komitmen hidupnya dan bukan sekedar ikut-ikutan. Namun, masih banyak lagi yang menjadi kendala kesempurnaan orang dewasa dalam beragama. kedewasaan seseorang dalam beragama biasanya ditunjukkan dengan kesadaran dan keyakinan yang teguh karena menganggap benar akan agama yang dianutnya dan ia memerlukan agama dalam hidupnya. Oleh kerana itu semua orang berkepentingan dengan Psikologi Agama dan dapat memanfaatkannya sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Bidang pendidikan anak misalnya, apabila si ibubapa ingin mendidik anaknya agar kelak menjadi seorang yang taat beragama, berakhlaq terpuji, berguna bagi masyarakat dan negaranya, dia dapat menggunakan pengetahuannya terhadap Psikologi Agama, disamping mengetahui sekedarnya tentang perkembangan jiwa anak pada umur tertentu dan perkembangan ciri remaja. Untuk itu dia dapat membaca buku tentang psikologi anak dan psikologi remaja. Bila para dakwah ingin mengajak umat hidup sesuai dengan ketentuan agama, taat melaksanakan agama dalam kehidupan mereka, maka dia dapat menggunakan Psikologi Agama dengan lebih dahulu mengatahui latar belakang kehidupan mereka, lalu menunjukkan betapa pentingnya ajaran agama dalam kehidupan manusia. Misalnya, manfaat iman bagi ketenteraman batin, manfaat solat, puasa, zakat dan haji bagi penyembuhan jiwa yang gelisah (fungsi kuratif) dan bagaimana pula manfaatnya bagi pencegahan gangguan jiwa (fungsi preventif) dan selanjutnya pentingnya iman dan ibadah tersebut bagi pembinaan dan pengembangan kesihatan jiwa (fungsi konstruktif). Psikologi Agama memberi gambaran tentang perkembangan jiwa agama pada seseorang, menunjukkan pula bagaimana pembahasan keyakinan (konversi) agama terjadi pada seseorang. Dan Psikologi Agama juga menjelaskan betapa seseorang mencari agama dan benar-benar mencintainya dalam bentuk mistik.[9] BAB III PENUTUP KESIMPULAN 1. Manusia sebagai mahluk sosial juga menjadi objek sosiologi sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan manusia mempelajari manusia di alam masyarakatnya, karena itu baik psikologi maupun psikologi yang sama sama membicarakan manusia, tidaklah mengherankan kalau pada suatu waktu adanya titik pertemuan di dalam meninjau titik manisua, misalnya masalah tingkah laku, tinjauan sosiologi yang penting adalah tinjauan masyarakatnya, sedangkan tinjauan psikologi bahwa tingkah laku sebagai manifestasi hidup kejiwaan yang di ddorong oleh moral tertentu hingga manusia itu bertingkah laku atau berbuat. 2. Kedua ilmu ini hampir tidak dapat di pisahkan satu sama lain, oleh karena mempunyai hubungan timbale balik pedagogic sebagai ilmu yang bertujuan untuk memberikan bimbingan hidup manusiasejak dari lahir sampai mati tidak akan sukses, bilamana tidak mendasarkan diri kepada psikologi, yang tugasnya memang menunjukkan perkembangan hidup manusia, sepanjang masa, bahkan cirri dan wataknya serta kepribadianya di tunjukkan oleh psikologi. 3. Psikologi dan agama merupakan dua hal yang sangat erat hubunganya antara keduanya, mengingat agama sejak turunya sabda rosul di ajarkan kepada manusia dengan dasar-dasar yang di sesuaikan dengan situasi dan kondisi psikologi pula, tampa dasar agama sulit mendapat tempat di dalam jiwa manusia, di dalam agama tedapat ajaran agama tentang bagaiman manusia mau menerima petunjuk tuhanya, sehingga manusia itu sendiri tampa paksaan bersedia menjadi hambanya yang baik dan taat DAFTAR PUSTAKA v Ahmadi, Abu, supriadi Widodo, ”Psikologi Belajar”,PT reneka cipta:Jakarta, 2004. v Sobur, Alex, “Psikologi Umum” CV Pustaka Setia:Bandung, 2003. v Ahmadi, Abu,”psikologi umum”PT Reneka Cipta;Jakarta, 2003 v Husnia, Ria laili, http://”makalah-psikologi-agama”.html,10-03-2011. v Rahmat , Jalaludin,http://” Psikologi Agama”bianglala.multiply.com.10-03-2011. v http://”psikologi/Hubungan sosial denga ilmu-ilmu sosial lainnya”-psikologi.htm10-03-2011. [1] Drs.H.abu ahmadi,Drs widodo supriadi,”Psikologi Belajar”,PT reneka cipta:Jakarta, 2004, hal-10 [2] Drs.Habu ahmadi,”psikologi umum”PT reneka cipta;Jakarta, 2003, hal-27 [3] Drs.alex sobur,M.Si. “Psikologi Umum” CV pustaka setia:bandung, 2003, hal-60 [4] http://psikologi/Hubungan sosial denga ilmu-ilmu sosial lainnya-psikologi.htm10-03-2011 [5] Drs.H.abu ahmadi,Drs widodo supriadi,”Psikologi Belajar”,PT reneka cipta:Jakarta, 2004, hal-11 [6] Drs.alex sobur,M.Si. “Psikologi Umum” CV pustaka setia:bandung, 2003, hal-72 [7] Drs.H.abu ahmadi,Drs widodo supriadi,”Psikologi Belajar”,PT reneka cipta:Jakarta, 2004, hal-11 [8] jalaludin rahmat,http://bianglala.multiply.com/journal/item/110/psikologi agama [9] Ria laili husnia http://makalah-psikologi-agama.html,10-03-2011 Related Post Semester Dua HUKUM OPERASI PLASTIK DAN GANTI KELAMIN Fungsi Pendidikan Radikalisme Islam Takhrij Hadits ANALISIS METODE PENDIDIKAN QUR’ANI Tafsir dan Ta'wil Sumber: http://alitayaqindbissa.blogspot.com/2012/04/hubungan-psikologi-dengan-sosial.html#ixzz2AJubfiOi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar